tawuran,, Hilangnya Ketulusan dan Keteladanan Disekolah

 Tawuran pelajar di berbagai sekolah negeri, seolah telah menjadi budaya. Tawuran pelajar paling terbaru yaitu antara SMA 70 dan SMA 6 Bulungan Jakarta Selatan, yang merenggut nyawa seorang pelajar yang terkena sabetan celurit.

Sebagai mantan Ketua Komite SMA 70, saya amat prihatin dan turut berduka yang amat dalam. Tawuran di dua sekolah elit ini merupakan bukti kegagalan pendidikan di rumah tangga dan sekolah yang dikelola pemerintah.

Dalam sejarah tawuran di sekolah, pada umumnya dilakukan di sekolah-sekolah negeri. Sangat sedikit dan hampir tidak ada di sekolah-sekolah swasta, terutama di sekolah-sekolah yang berbasis agama, baik Islam, Katolik, Protestan maupun Hindu, dan lebih istimewa lagi di berbagai pesantren, sama sekali tidak ada tawuran pelajar.

Penyebab Tawuran

Tawuran adalah istilah lain dari konflik, pertentangan, perkelahian, dan pertengkaran. Penyebab tawuran sangat kompleks, sehingga diperlukan penelitian yang mendalam pada sekolah-sekolah yang sering tawuran. Akan tetapi, tawuran secara sederhana dapat dipetakan pada dua faktor.

Pertama, faktor internal yang meliputi kehidupan rumah tangga dan sekolah tempat pelajar belajar. Faktor internal ini memegang peranan penting dalam pembinaan dan pendidikan anak. 

Institusi pertama adalah rumah tangga, yang belakangan ini dengan berbagai kesibukan orang tua, sering abai dan lupa dalam membina dan mendidik serta menanamkan akhlak mulia pada putera-puterinya. Pada hal masa pertumbuhan anak, sangat memerlukan perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya dan penanaman nilai-nilai akhlak yang mulia serta keteladanan.

Institusi internal kedua ialah sekolah. Guru memegang peranan yang amat penting. Karena setiap hari merekalah yang berhubungan dan bersentuhan langsung dengan pelajar. Hanya saja banyak guru di berbagai sekolah pemerintah lebih dominan sebagai pegawai, bukan sebagai pendidik.

Guru bermental pegawai, paling banyak dan selalu mendapat tempat disetiap sekolah. Mereka bisa beradaptasi dengan siapapun kepala sekolahnya, sehingga siapapun kepala sekolah, mereka aman tidak dimutasi di sekolah lain. Namun, keberadaan mereka tidak memberi kontribusi positif dalam pembinaan budaya sekolah yang baik.

Mereka pada umumnya tidak memiliki idealisme dan ketulusan, hanya menjalankan kewajiban mengajar sesuai tugas yang diberikan kepadanya. Sementara yang diperlukan adalah guru sebagai pendidik yang memberi perhatian sepenuh hati kepada pelajar dengan penuh ketulusan, keteladanan dan pengabdian dalam pembangunan generasi muda yang berakhlak mulia, cerdas dan berwawasan kebangsaan. Guru sebagai pendidik inilah yang langkah diberbagai sekolah pemerintah.

Maka, kombinasi dari kondisi rumah tangga yang kering dari perhatian dan kasih sayang orang tua dalam membina dan mendidik anak supaya berakhlak mulia, serta kondisi sekolah yang hanya dijejalahi penekanan supaya memperoleh nilai dan kelulusan yang tinggi, menjadi penyebab utama pelajar mudah beringas kalau disulut oleh teman-temannya dengan berbagai isu antar siswa.

Kedua, faktor eksternal yaitu lingkungan masyarakat dan media. Harus diakui dunia pendidikan tidak didukung oleh lingkungan masyarakat yang kondusif dan pemberitaan media yang edukatif. Sejatinya harus ada sinergitas antara orang tua, sekolah, dan masyarakat dalam pembinaan dan pendidikan akhlak atau watak pelajar. Masyarakat ini dalam arti luas yaitu komunitas dilingkungan sekolah, kepolisian, dan media sebagai institusi sangat berpengaruh di era Orde Reformasi.

Akan tetapi dalam realitas, masing-masing berjalan sendiri. Orang tua protektif terhadap putera-puterinya yang menciptakan masalah. Sementara sekolah, sangat mudah melepas tanggung jawab dengan mengatakan bahwa tawuran terjadi di luar sekolah dan di luar jam belajar. Sementara polisi yang berada di garda terdepan, selalu tidak berani melakukan penindakan karena mereka mengetahui bahwa penyebab tawuran adalah kombinasi dari kegagalan orang tua, sekolah dan masyarakat dalam pembinaan dan pendidikan pelajar.

Kesimpulan

Tawuran antara pelajar SMA 70 dengan SMA 6 semoga bukan merupakan bukti meredupnya kewibawaan kepala sekolah, para wakil sekolah dan para guru karena hilang ketulusan dan keteladanan dalam mendidik.

Untuk mengakhiri secara permanen budaya tawuran yang selalu melibatkan pelajar di SMA 70 yang berlabel RSBI dan SMA 6 yang berstatus sekolah unggulan dan sedang mengusulkan menjadi RSBI, maka lingkungan sekolah harus direformasi dengan menanamkan dan menumbuhkan nilai-nilai ketulusan, semangat pengabdian, kejujuran dan keteladanan. Para guru yang sudah lama mengabdi di kedua SMA itu supaya dimutasi untuk menciptakan suasana baru yang kondusif dan dinamis.

Tawuran yang merenggut nyawa pelajar ini, hendaknya dijadikan titik awal (starting point) bagi kepala sekolah, para wakil kepala sekolah, dan seluruh guru, mengubah cara pandang dan cara fikir (mindset) menjadi pendidik yang penuh dengan dedikasi, ketulusan, pengorbanan, kejujuran dan keteladanan, bukan guru berlabel pendidik yang bermental dan berbudaya pegawai yang asal kepala sekolah dan kepala dinas senang.

Tawuran antara pelajar SMA 70 dan SMA 6 ini, kiranya menjadi pelajaran sepanjang masa kepada kedua sekolah elit tersebut untuk selalu introspeksi dan terus-menerus berbenah diri, yang dimulai dari kepala sekolah, para wakil kepala sekolah dan seluruh guru serta para pebagai tata usaha.

Selain itu, rumah tangga para pelajar, juga harus introspeksi dan mawas diri, dan bertekad memperbaiki keluarga. Sementara masyarakat luas, polisi dan media, harus mengambil peran yang besar untuk menyudahi tawuran yang tiada akhir.

Supaya langkah penyelesaian tawuran dapat dilakukan secara tuntas dan berhasil, maka diharapkan para sosiolog terpanggil melakukan penelitian yang mendalam dan komprehensif supaya bisa diketahui akar masalah tawuran pelajar di dua sekolah elit itu supaya dapat dipecahkan permasalahannya secara permanen dan langgeng.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s