Merenung sedikit yukkk

Anak bersekolah, dimana peran Orangtua?

Oleh : Abu Sitti Sholihat

            Genderang belajar telah ditabuh. Anak anak usia sekolah dengan seragam baju putihnya menghiasi jalan jalan di perkotaan dan pedesaan. Mereka tampak ceria menatap hari baru mereka yang menyaput liburan panjang. Dari sekian banyak siswa tersebut sebagian adalah siswa baru dengan ciri  seragamnya yang masih cerah, putih dan bersih. Mereka ini adalah sekelompok manusia menjelang dewasa yang masih terbentang segala kemungkinan masa depannya apakah akan menjadi manusia yang sukses, yang dewasa sepenuhnya kelak, yang setengah setengah, atau akan menjadi problem sosial.

            Untuk melihat gambaran hasil belajar anak kita yang sedang atau akan bersekolah sekaligus memprediksi menjadi apa kelak, kita tidak menunggu terlalu lama. Sekolah yang anak kita pilih telah memberikan gambaran tersebut. Ketika anak kita belajar pada sekolah dengan manajemen baik, kedisiplinan dan ketertiban sangat terjaga, maka sangat mungkin anak kita akan menjadi seperti sosok sekolahnya. Sebaliknya bila anak kita belajar pada sekolah yang serba tidak tertib,namun mereka nyaman di dalamnya,maka akan seperti itulah kira kira anak kita. Mereka juga akan menjadi sosok sosok pribadi sesuai visi sekolah ditempat dia belajar. Mereka akan menjadi pribadi dengan pola pikir pragmatis, instant duniawi , religius, atau cekatan dan ulet tergantung visi sekolah yang mereka pilih. Sekalipun prediksi tersebut tidak mutlak, namun kemungkinannya sangat besar.

            Melepas anak menuju dunia sekolah bukan berarti mengistirahatkan peran dan tanggungjawab orang tua dalam mendidik anaknya. Masih cukup banyak peran dan tanggungjawab orangtua atas anaknya yang bersekolah yang harus diemban. Tidak peduli apakah anak kita bersekolah di sekolah umum, sekolah full day atau bahkan pesantren. Sebab pada umumnya sekolah akan merasa berkeberatan bila dituntut untuk dapat mengkover segala tuntutan pendidikan walaupun pihak manajemen telah menjanjikan hal tersebut . Bagaimanapun juga sekolah akan meninggalkan lobang lobang peran yang tidak tuntas dilaksanakan. Lobang lobang peran itulah yang seharusnya diisi oleh orang tua, untuk menuntaskan tanggungjawab yang disematkan oleh Alloh swt kepadanya. Kita perlu ingat. Orang tualah pembawa amanat pengasuhan setiap anak yang akan dituntut oleh Alloh kelak di hari akhir.

Tujuan mensekolahkan anak adalah agar mereka mampu hidup dengan benar dan baik, mampu mengemban amanah Alloh dan menggali  hikmah seluas luasnya. Anak kita bukan sekedar kita bekali atau kita pacu untuk meraih ilmu. Anak kita harus kita pacu untuk berproses menjadi pribadi yang mampu menebarkan rohmat di tengah keluarga, masyarakat dan alam sekitarnya. Itulah parameter keberhasilan pendidikan yang telah digariskan oleh Alloh swt dalam Al Qur’an . Kita dapat menggali konsep itu pada surat Lukman:11-19 dalam bentuk kisah Lukman Al Hakim yang memberi nasehat kepada anaknya. Parameter keberhasilan pendidikan yang seharusnya dipegang teguh oleh setiap orang tua dalam mendidik anaknya adalah:

1.         Tauhid

            “…janganlah kalian mensekutukan Alloh…” Artinya bahwa anak anak kita harus benar benar mentauhidkan Alloh swt. Mereka harus mengenal dan memahami siapa Pencipta manusia,alam semesta dan seisinya, siapa yang menjamin dan memelihara kehidupan, siapa yang harus ditaati,diagungkan dan disandari.Indikator indicator diatas ditunjukkan dalam sikap keseharian berupa akhlak dan ibadahnya.

2.         Birrul Walidain

            Tuntuitan untuk berbakti kepada Orang Tua bukanlah kepentingan subyektif kita sebagai orangtua,tapi kepribadian yang secara obyektif diidamkan oleh semua orang. Siapapun orangnya,baik tua,muda atau anak anak akan sangat terpuji bila berbakti pada orangtuanya,menunjukkan ketaatan dan penghormatan yang tulus. Sikap sebaliknya akan menghadirkan malapetaka yang besar, baik didunia maupun diakherat. Aspek ini sedemikian pentingnya, sampai bila orangtua kita kafir atau musyrikpun kita tetap harus menghormati dan menggauli dengan baik. Perkecualiannya bila dia menyuruh kita mensekutukan Alloh swt dan mengajak pada kekafiran.

3.         Ketrampilan hidup

            Indikator utama bahwa anak kita siap untuk hidup  adalah suka bekerja. Dengan suka bekerja anak menjadi kuat,cerdas dan ulet. Banyak sekali ilmu dan hikmah diraih seseorang setelah bekerja. Sebaliknya sangat banyak kesempatan dan kebaikan lenyap karena kemalasan. Oleh karena itu setiap saat kita harus selalu mengamati etos kerja anak kita yang sekolah dimanapun, termasuk  di Pesantren. Ada baiknya kita menyerahkan beberapa pekerjaan rumah kepada sang anak sekalipun kita punya pembantu.

4.         Kekuatan jiwa

            Jiwa yang kuat adalah jiwa yang tahan uji. Baik ujian dalam bentuk kesusahan, kesulitan kerja atau bahkan ujian berupa pengendalian diri ketika senang. Aspek ini akan teraih melalui proses pembimbingan dan pengasuhan yang tidak instan. Butuh waktu lama dan kesabaran ekstra, baik dari anak maupun orang tua. Kunci utama dari keberhasilan ini adalah menegakkan sholat. Tidak disangsikan,bahwa sholat adalah sumber kekuatan (QS AL Baqoroh:45). Tegaknya sholat pada anak kita yang menyongsong kedewasaan  adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar tawar. Apabila seseorang sudah mengabaikan sholat,maka urusan urusan penting lainnya pasti akan terabaikan. Sebaliknya bila tegak sholatnya,maka perbuatan keji dan munkar akan terhindar dan dia akan mudah peduli pada pekerjaan. Dengan sholat keberanian untuk beramar ma’ruf nahi munkar pun akan meningkat.

5.         Tumbuhnya jiwa sosial

            Anak kita adalah miniatur orang dewasa. Kelak mereka akan berinteraksi secara luas dengan masyarakat sekitarnya. Anak anak kita harus mampu menjunjung tinggi  nilai nilai sosial dengan sebisa mungkin mengatasi egonya. Sikap hormat ,menghargai dan santun pada orang lain harus terlatih sejak usia muda. Keberhasilan dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya akan menambah ketentraman, ketenangan dan pruduktifitas kerja.

Muara dari seluruh pencapaian kelima kompetensi diatas adalah terwujudnya pribadi yang bersyukur dan sabar. Mensukuri segala potensi yang dikaruniakan oleh Alloh kepada hamba-Nya , dan bersabar atas segala takdir-Nya yang dihidangkan dalam kehidupan. Syukur akan membawa sikap progresif untuk terus maju dan sabar menjadi bekal untuk menghadapi tantangan hidup.

Untuk dapat mengukur pencapaian hasil tarbiyah pada anak anak kita secara lebih akurat,sebagai orang tua kita perlu bersinergi secara lebih kuat dengan pemangku amanah sekolahnya. Kita perlu mencermati perkembangan anak didik kita secara intensif. Bila anak kita adalah santri sebuah pesantren,pada saat liburan kita perlu amati bagaimana ibadahnya, bagaimana etos kerja dan perkembangan akhlak dan ilmunya.. Pada masa masa sekolahpun mereka perlu kita pantau baik secara langsung dengan sesekali kita tengok di lingkungan sekolahnya atau dengan melakukan komunikasi intensif dengan pengasuh pengasuhnya. Sikap kritis ini bukan menunjukkan bahwa kita kurang percaya pada lembaga pendidikan tempat anak menimba ilmu,tetapi semata mata sebagai wujud kepedulian bersama atas porsi porsi tanggungjawab yang telah kita sepakati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s